RAGAPADMI, PERMAISURI YANG TERBUANG - Pacangan

Terbaru

Post Top Ad

Kamis, 10 Agustus 2017

RAGAPADMI, PERMAISURI YANG TERBUANG



          Di Desa Pacangan, ada sebuah sejarah yang sangat terkenal. Menurut cerita, tersebutlah kisah seorang raja yang bernama Bidarba. Namun, ada juga yang menyebut Abidarda. Ia mempunyai seorang permaisuri yang bernama Ragapadmi. Mereka tinggal di istana yang megah di Pulau Madura (Soegiharto, tanpa tahun). Raja Bidarba punya permaisuri 4 orang dan masih banyak istri lainnya, salah satunya yaitu Ragapadmi yang sangat muda dan cantik (Arab, 2015). Namun, sebutan raja di Madura dan atau pada khususnya di Desa Pacangan adalah rato. Rato Bidarba bukanlah orang Madura melainkan orang Arab. Seperti yang dikatakan oleh Mbah Rouf, bahwasannya Bidarba datang ke Madura dan Bidarba merupakan bangsa Arab. Dan hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancara dengan Mbah Rouf di bawah ini:
“katanya aslinya  bukan orang sini, apa Ragapadmi orang pacangan juga saya tidak tau tapi yang paling iya Bidarba itu orang Maghrobi Arab (Wawancara dengan Mbah Rouf di Desa Pacangan, 22 Juli 2017).”
Tidak banyak yang tahu siapa sebenarnya Ragapadmi, apakah perempuan dari Desa Pacangan atau tidak ?. Seperti yang dijelaskan oleh Mbah Rouf yang tidak begitu mengerti asal dan identitas dari Ragapadmi. Namun, ada salah satu masyarakat Desa Pacangan yaitu Ustadz Fadol yang mengatakan bahwasannya Ragapadmi masih saudara dengan Rato Ebo yang ada di Bangkalan. Di mana hal ini dapat dilihat dari transkip wawancara di bawah berikut ini:
“Masih ada saudara dengan Rato Ebo yang ada di Bangkalan (Wawancara dengan Ustadz Fadol di Desa Pacangan, 26 Juli 2017)”.
Selain memiliki istana megah itu, Raja Bidarba memiliki banyak pembantu. Salah satu pembantu setianya bernama Bangsacara. Sementara patih raja bernama Bangsapati. Orang yang disebut terakhir ini sangat iri kepada Bangsacara karena raja selalu memberikan berbagai tugas penting kepada Bangsacara (Soegiharto, tanpa tahun).
Suatu hari, Ragapadmi menderita penyakit kulit yang sangat menyedihkan. Dari kulit yang berpenyakit itu keluar bau yang tidak sedap. Raja pun sangat khawatir. Raja lalu mengundang banyak orang ahli untuk mengobatinya namun tidak satu pun mampu menyembuhkannya (Soegiharto, tanpa tahun).
Berdasarkan cerita yang ada di Desa Pacangan, bahwasannya Ragapadmi terkena Apenyakit kulit di sekujur tubuhnya, yang membuat pihak kerajaan meminta ajudan yang baik yang bernama Bangsacara untuk membawa keluar dari lingkungan kerajaan. Seperti yang dikatakan Mbah Rouf sebagai sesepuh Desa Pacangan bahwasaanya Ragapadmi diusir karena Rato Bidarba tidak suka dengan Ragapadmi karena penyakitnya, di mana hal ini bisa dilihat dari kutipan wawancara di bawah berikut ini:
“Lama kelamaan kemudian istrinya Abidarda (Bidarba) itu merupakan perempuan paling cantik waktu itu yang bernama Ragapadmi. Akhirnya Ragapadmi, terkena penyakit dari Yang Kuasa yaitu penyakit kulit (gatal-gatal) sekujur tubuhnya dan akhirnya Abidarda tidak suka sama Ragapatmi, karena  istrinya mempunyai penyakit kulit. Akhirnya istrinya dititipkan kepada orang lain yang bernama (Mbah Rouf sedikit lupa) (Wawancara dengan Mbah Rouf di Desa Pacangan, 22 Juli 2017).”
Hal senada juga diungkapkan oleh Ustadz Fadol yang mengatakan bahwasannya Ragapadmi terkena penyakit kulit atau gatal-gatal. Ragapadmi merupakan perempuan yang paling cantik. Ketika berada di kerajaan, pihak kerajaan berusaha segala pengobatan, namun tidak kunjung sembuh juga, akhirnya Rato Bidarba meminta salah satu pekerja yang ada di lingkungan kerajaan untuk membawanya. Pernyataan Ustadz Fadol dapat dilihat dari hasil transkip wawancara di bawah berikut ini:
“Sudah dicoba segala pengobatan, namun tidak kunjung sembuh juga. Akhirnya Rato Bidarba meminta salah satu pekerjanya untuk membawa Ragapadmi (Wawancara dengan Ustadz Fadol di Desa Pacangan, 26 Juli 2017)”.
Hal ini senada seperti salah satu tulisan Soegiharto yang mengatakan tentang Patih Bangsapati yang iri hati kepada Bangsacara itu, mengusulkan kepada rajanya agar Bangsacara disuruh membawa Ragapadmi di rumahnya di desa untuk sementara. Mungkin dengan cara ini dua hal sekaligus dapat dilakukan, yaitu terusirnya Bangsacara dari dekat raja dan selesainya (untuk sementara) persoalan Ragapadmi. Raja setuju dengan usul Bangsapati ini lantas menyerahkan Ragapadmi kepada Bangsacara untuk dibawa pergi (Soegiharto, tanpa tahun).
Setelah dibawa oleh Bangsacara, Ragapadmi diobati oleh Bangsacara dengan ilmu batin. Sehingga pada akhirnya Ragapadmi sembuh dan cantik kembali, bahkan lebih cantik dari sebelumnya, sebelum Ragapadmi mengalami sakit kulit. Mbah Rouf yang merupakan seorang kiai di Desa Pacangan mengatakan bahwasannya dari buku yang pernah dibaca tentang Ragapadmi dan Bangsacara, tidak ada keterangan Ragapadmi sembuh karena mandi di Sumber Kerre’, di mana hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancara di bawah berikut ini:
“Akhirnya lama kelamaan penyakit itu sembuh tapi menurut sejarah yang pernah saya tau lain dengan sejarah yang mandi di Sumber Kerre’, tidak ada sejarah Sumber Kerre’ yang saya tau sejarah dari Sampang atau Pamekasan. Lama kelamaan Ragapadmi diobatin sama orang yang mengasuhnnya dan akhirnya sembuh dan cantik kembali (Wawancara dengan Mbah Rouf di Desa Pacangan, 22 Juli 2017)”.
Namun hal ini berbeda dengan yang dikatakan oleh Ustadz Fadol dan masyarakat Desa Pacangan pada umumnya, yang mengatakan bahwasannya Ragapadmi sembuh karena sering mandi di Sumber Kerre’. Awalnya Ragapadmi sudah diobati dengan segala macam pengobatan, namun tidak kunjung sembuh, namun karena sering mandi di Sumber Kerre’ Ragapadmi sembuh dan cantik lagi. Pernyataan Ustadz Fadol bukan sekedar cerita belaka, namun cerita dari sesepuh zaman dulu, di mana pernyataan ini dapat dilihat di kutipan wawancara di bawah ini:
“Sudah diobati dengan segala pengobatan, namun tidak sembuh juga. Tetapi, sembuhnya karena sering mandi di Sumber Kerre’, dan tidak tahu kenapa harus Sumber Kerre’ (Wawancara dengan Ustadz Fadol di Desa Pacangan, 26 Juli 2017). “
Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh Hajah Marni yang mengatakan bahwasannya Sumber Kerre’ tempat Ragapadmi mandi dan membuang bekas luka pada kulitnya. Di mana pernyataan ini dapat dilihat dari kutipan wawancara di bawah berikut ini:
Ya mandi di Sumber Kerre’, tempat membuang luka-lukanya itu (Wawancara dengan Hajah Marni di Desa Pacangan, 22 Juli 2017)”.
Setelah Ragapadmi sembuh, Bangsapati yang punya sifat buruk dan dengki menghasut Rato Bidarba dengan mengatakan bahwasannya Bangsacara tidak pantas bersama Ragapadmi, perempuan yang paling cantik. Bagi Bangsapati, Rato Bidarba lah yang pantas bersama Ragapadmi. Seperti yang dikatakan oleh Mbah Rouf di bawah ini (kutipan wawancara):
“Tidak, itu diobati seorang tapi bukan bentuk pil yaitu obat secara batin dan akhirnya sembuh. Akhirnya Ragapadmi mau dikawini lagi sama Abidarda. Akhirnya Ragapadmi diapusi (Wawancara dengan Mbah Rouf di Desa Pacangan, 22 Juli 2017)”.
Hal senada juga di katakan oleh Ustadz Fadol yang mengatakan bahwasannya Bangsapati berusaha menghasut Rato Bidarba, karena Bangsacara dirasa tidak pantas bersama Ragapadmi yang cantik. Uangkapan Bangsapati tentang Ragapadmi yang sembuh dan cantik kembali karena perintah dari Rato Bidarba untuk mengunjungi Bangsacara yang telah lama tidak datang ke istana. Karena Raja terpana setelah mendengar cerita itu. Terbayang padanya mantan isterinya yang sangat cantik itu. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Raja berkata agar Bangsapati mencari cara agar Ragapadmi bisa dibawa pulang ke istana untuk dinikahinya kembali (Soegiharto, tanpa tahun). Bangsapati yang panjang akal itu datang kembali ke rumah Bangsacara. Dikatakan oleh Bangsapati bahwa Raja memerintahkan Bangsacara memburu rusa di Pulau Mandangin untuk dihaturkan kepada Raja (Soegiharto, tanpa tahun).
Bangsacara dan anjingnya lalu berenang menyeberangi selat kecil untuk mencapai pulau kecil tersebut. Di sana Bangsacara dibantu anjingnya berhasil mendapatkan banyak rusa. Saat hendak menyeberang untuk kembali pulang, Bangsacara ditemui Bangsapati yang menyatakan bahwa ia membawa perintah baru dari raja. Perintah itu adalah membunuh Bangsacara dan membawa pulang Ragapadmi ke istana. Bangsapati lalu membunuh Bangsacara dengan kerisnya. Saat menjelang tewas, Bangsacara berkata bahwa Ragapadmi akan selalu mengingatnya (Soegiharto, tanpa tahun).
Sedangkan menurut Ustadz Fadol yang juga tahu bahwasannya di Desa Pacangan, Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan memiliki buku sejarah tersebut dan bertuliskan aksara Jawa, karena sempat dipinjam dari satu tangan ke tangan yang lain, termasuk dari Pamekasan yang juga pernah meminjam buku sejarah dari Desa Pacangan. Ustadz Fadol menambahkan bahwasannya Bangsacara meninggal karena keris yang diberikan kepada Bangsapati untuk membunuhnya. Karena keris yang digunakan oleh Bangsapati tidak dapat membunuhnya. Hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancara di bawah berikut ini:
“Kalau kamu memang diperintahkan raja, silahkan gunakan keris saya. Dan akhirnya Bangsacara mati (Wawancara dengan Ustadz Fadol di Desa Pacangan, 26 Juli 2017)”.
Melihat tuannya tewas, anjing setia lalu berenang sendirian menyeberangi selat dan pulang kembali ke rumah. Mendengar anjingnya pulang dan terus-menerus menyalak, Ragapadmi mendapat firasat bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dengan membawa kerisnya, ia membuntuti anjing itu, yang pergi lagi menuju pulau Mandangin (Soegiharto, tanpa tahun)”.

Ustadz Fadol yang masih ingat dengan cerita orang-orang terdahulu yang ada di Desa Pacangan mengatakan bahwasannya Ragapadmi pergi dengan anjingnya ke Pulau Mendangin yang ada di Sampang karena anjing datang untuk menjemputnya. Karena Ragapadmi merasa terheran-heran dengan kedua anjing tersebut akhirnya Ragapadmi mengikutinya. Dan ketika sampai ke Pulau Mendangin Ragapadmi berteriak karena tidak dapat menerima kenyataan bahwasannya orang yang ia cintai telah tak bernyawa.
Karena begitu sayangnya dengan Bangsacara akhirnya Ragapadmi menolong dan memeluknya dengan air mata yang berurai. Namun, pada akhirnya Ragapadmi juga meninggal karena terkena racun dari keris yang tertusuk pada dada Bangsacara. Dan dua anjing tersebut berusaha menyelamatkan Ragapadmi dengan mengambil keris tersebut, tetapi dua anjing tersebut juga meninggal karena terkena racun juga. Di mana hal ini dapat di lihat dari kutipan wawancara di bawah berikut ini:
“Kebanyakan orang mengatakan bahwasannya Ragapadmi mati karena bunuh diri. Sebenarnya tidak, Ragapadmi berusaha menolong dengan memeluk Bangsacara, namun Ragapadmi juga terkena racun dari keris tersebut, yang membuat Ragapadmi juga meninggal. Pun dengan kedua anjing yang berusaha mengambil keris tersebut dan pada akhirnya terkena racun juga dan mati juga (Wawancara dengan Ustadz Fadol di Desa Pacangan, 26 Juli 2017)”.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad