PENINGGALAN KERAJAAN PACANGAN "GERBANG KERAJAAN RATO BIDARBA" - Pacangan

Terbaru

Post Top Ad

Kamis, 10 Agustus 2017

PENINGGALAN KERAJAAN PACANGAN "GERBANG KERAJAAN RATO BIDARBA"


Beberapa peninggalan yang banyak diyakini oleh masyarakat Desa Pacangan adalah salah satunya gerbang atau pendopo kerajaan. Batu-batu yang sudah menghitam dan terdapat sedikit lumut kering yang menempel menyatakan usia batu yang tua. Batu-batu yang menumpuk tersebut tingginya kurang lebih satu meter, dan ditumbuhi oleh akar-akar pepohonan yang mengikat batu-batu dengan kuat.
“Iya masih ada (Wawancara dengan Sarinten di Desa Pacangan, 26 Juli 2017)”.
            Batau-batu tersebut letaknya tidak terlalu begitu jauh dengan permukiman masyarakat Desa Pacangan. Namun, masyarakat disini tidak berani mendatangi tempat batu-batu tersebut berada. Karena menurut masyarakat Desa Pacangan tempat ini sangatlah keramat dan banyak penunggu atau prajurit yang tidak dapat terlihat dengan mata telanjang manusia. Seperti yang dikatakan oleh Ustadz Fadol tempat ini tidak ada orang yang berani datang apalagi sendiri, banyak orang takut datang kesini, karena di sini banyak tentara atau prajurit sisa kerajaan yang menjaga. Dan Ustadz Fadol pernah menceritakan pernah ada seseorang yang bersemedi atau bertapa di tempat ini dan akhirnya menghilang. Di mana hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancara di bawah berikut ini:
Saya sebenarnya takut mas mau ke sini. Tempat ini keramat, dan tidak ada yang berani datang ke tempat ini. Karena banyak prajurit atau tentara yang menjaga tempat ini. Dan ketika orang datang ke sini tidak boleh sembarangan karena ada aturan atau arahnya sendiri (Wawancara dengan Ustadz Fadol di Desa Pacangan, 26 Juli 2017)”.
Gambar 1. Batu sisa-sisa gerbang atau pendopo kerajaan, diambil pada 26 Juli 2017.
Seperti pada gambar di bawah ini, terlihat jelas akar-akar pohon dan tumbuhan kecil menutupi secara perlahan batu-batu dari bangunan gerbang kerajaan. Pada gambar di bawah ini juga terlihat jelas jika tempat ini jarang didatangi oleh masyarakat Desa Pacangan, karena tempat yang terkesan tidak terawat dan ilalang yang tumbuh banyak dengan ketinggian kurang lebih satu meter. Ditambah dengan daun-daun kering yang menambah sulitnya batu-batu tersebut ditemukan ketika ingin mendatangi tempat ini.
Tempat batu-batu tersebut berada, berdekatan dengan areal persawahan masyarakat Desa Pacangan dan sebuah pemakaman pribadi yang tidak begitu banyak. Namun, di temapt ini juga tidak ada keterangan untuk siapapun perlu berhati-hati ketika mendatangi tempat ini, maupun keterangan lain seperti keterangan tempat keramat.
 Gambar 2. Sisa-sisa gerbang yang tertutup oleh akar pepohonan, diambil Pada 26 Juli 2017 
Di bawah ini adalah gambar jalan menuju Kota Bangkalan. Jalan ini berada di depan gerbang yang sudah dijelaskan sebelumnya. Jalan ini dulunya digunakan dari dan menuju Kota Bangkalan yang dikenal sekarang. Para keluarga kerajaan dulu pernah melewati jalan ini dengan menunggangi kuda, kalau dalam Keraton Yogyakarta dikenal dengan kereta kencana.
“Ini adalah jalan yang digunakan menuju Kota Bangkalan, dengan menggunakan kuda. Dari sini sampai terus menuju Kota Bangkalan (Wawancara dengan Ustadz Fadol di Desa Pacangan, 26 Juli 2017)”.
Lebar jalan ini sekitar 4 meter lebih yang di samping kanan dan kiri terdapat sebuah garis yang menandakan bahwa ini adalah jalan yang sering digunakan dari dan menuju Kota Bangkalan. Kondisi jalan ini untuk sekarang banyak ditumbuhi oleh rumput-rumput liar dan sedikit kering.
Gambar 3. Jalan yang dilewati ketika ke arah Bangkalan dari gerbang kerajaan, diambil pada 26 Juli 2017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad