Pacangan

Terbaru

Post Top Ad

Post Top Ad

Jumat, 11 Agustus 2017

PETA PACANGAN

Agustus 11, 2017 0

PETA PACANGAN

      Pacangan merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tragah Kabupaten Bangkalan. Pacangan  terletak diantara Desa Pamorah, Masaran, Bancang. Pacangan adalah salah satu desa dengan sumber daya alam yang tidak kalah saing dengan desa-desa lainnya, Pacangan memiliki sumber mata air yang sangat cantik dan tergaja kebernihannya layaknya kaca. Bahkan bebatuan yang berada di dasar permukaan sumber terlihat jelas. Tidak hanya sumber mata airnya yang memikau, Pacangan juga terkenal dengan keindahan tumbuhan Bambu yang banyak melintang sepanjang desa Pacangan. Bagi temen-temen yang ingin berkunjung ke Pacangan nih silahkan datang aja, ga bakal nyesel deh 


Read More

Kamis, 10 Agustus 2017

PAHLAWAN TANPA JASA DARI UTM

Agustus 10, 2017 0
        Setelah selama 3 hari menjadi warga Pacangan, KKN 48 juga mencoba menjadi Pahlawan Tanja Jasa, cielah.. sedikit bercerita saat datang ke desa Pacangan, kami melihat hanya terdapat 1 Sekolah Dasar beserta 1 Madrasah Diniyah, dengan jumlah murid yang lumayan banyak, tidak ada Sekolah PAUD di desa Pacangan, dimana PAUD ini merupakan sekolah yang harus ditempuh oleh anak didik sebelum melanjutkan ke jenjang SD, nah KKN 48 lagi- lagi berinisiatif untuk menjadi tenaga kerja dadakan sebagai Pahlawan Tanpa Jasa untuk adik-adik umur 2-3 tahun ini dikarenakan tidak ada tenaga kerja untuk mengajar PAUD. Sekolah ini dilakukan dirumah Kepala Desa Pacangan, tidak dilaksanakan disekolah seperti umumnya, karena sekolah ini masih beum mendapat payung hukum.
          Pengalaman selama mengajar banyak sekali kendala, selain peserta didik yang tidak mengerti Bahasa Indonesia hingga siswa yang sangat aktif tidak ingin berhenti bermain(alias gamau belajar) hehe, namun itu semua bisa kami lalui dengan kerja sama kelompok KKN 48 yang kompak banget. Lokasi Pacangan yang terletak lumayan jauh dari perkotaan membuat porsi belajar siswa kurang maksimal hanya belajar di Sekolah saja, ingin mengatasi masalah tersebut, KKN 48 juga mengajar les untuk siswa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.
          Pengalaman pertama mengajar peserta les SD dan SMP masih sedikit peminatnya, kami mencoba untuk menggunakan metode mengajar yang fresh tidak menoton seperti disekolah, alhasil metode ini membuat ketertarikan peserta les menjadi lebih banyak dan membuat tujuan kami untuk meningkatkan SDM masyarakat Pacangan mendapat pencerahan cielah hehe.
          Warga sekitarpun memberikan respon positif terhadap kegiatan kami ini, salah satu warga bahkan mengatakan, “Saya suka dengan adanya kegiatan mengajar ini, adik saya lebih senang belajar sekarang” tungkas salah satu pemuda Pacangan. Sampai saat ini, hari ke-20 kami menjadi warga Pacangan siswa terus berdatangan untuk belajar bersama KKN 48
Read More

MANFAATKAN BAMBU SEBAGAI PRODUK UNGGULAN PACANGAN

Agustus 10, 2017 0
             Pacangan merupakan salah satu desa di Bangkalan dengan potensi Sumber Daya Alam yaitu bambu. Masyarakat Pacangan sendiri hanya menggunakan bambu tersebut untuk keperluan sehari-hari, seperti untuk membuat pagar, kandang ternak hingga menggunakan bambu sebagai salah satu bahan bangunan untuk membangun rumah. Dengan melimpahnya Sumber Daya Alam(Bambu) di desa Pacangan, membuat KKN 48 berinisiatif untuk memanfaatkan bambu untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.  Metode yang digunakan oleh KKN 48 yaitu dengan cara menggunakan bambu untuk dijadikan barang kerajinan yang bernilai ekonomis tinggi.  

          Seperti pada gambar diatas, terlihat salah satu contoh hasil kerajinan yang diciptakan oleh KKN 48 diantaranya yaitu lampion, vas bunga hingga miniatur alat yang digunakan untuk kerapan sapi dan miniatur sumber mata air yang ada di Pacangan yaitu Sumber Kaser. Dengan adanya kerajinan ini diharapkan masyarakat Pacangan dapat mengolah bambu lebih baik lagi untuk nantinya dapat berguna untuk masyarakt sendiri.
Read More

7 TAHUN TAK RAYAKAN KEMERDEKAAN, KKN 48 MERIAHKAN PACANGAN

Agustus 10, 2017 0

     17 Agustus merupakan tanggal sakral bagi penduduk Indonesia. Dimana pada tanggal tersebut, masyarakat diajak kembali mengenang masa-masa kemerdekaan dulu, tak terkecuali masyarakat Pacangan. Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan, KKN 48 berkolaborasi dengan Karangtaruna Pacangan melakukan rangkaian lomba-lomba. Lomba ini diadakan pada hari Jum’at(4/7/17) jam 13.00 WIB dirumah warga sekitar yang memang merupakan pusat berkumpulnya warga. Lomba yang diadakan diantaranya ada lomba lari kelereng, pukul kendi/air, lari bendera, lari karung, makan kerupuk, memasukkan paku dalam botol, topi cantel, estafet air, ngempit balon, koin dalam jeruk bali, menangkap belut, panco, nyo’on geddheng, tarik tambang serta lomba lomba seru lainnya.
          Masyarakat sangat antusias dalam rangkaian lomba ini, dikarenakan memang sudah 7 tahun lamanya masyarakat Desa Pacangan tidak mengadakan rangkaian lomba untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Seperti pada gambar diatas, tergambar meriahnya lomba memperingati Hari Kemerdekaan ini, salah satu Peserta Lomba mengatakan, “Seru mbak udah lama ga lomba beginian, deg degan”. Para orangtuapun turut andil dalam memeriahkan lomba ini. Rencananya lomba ini akan dilakukan hingga hari Senin(7/7/17).
Read More

PENINGGALAN KERAJAAN PACANGAN "GERBANG KERAJAAN RATO BIDARBA"

Agustus 10, 2017 0

Beberapa peninggalan yang banyak diyakini oleh masyarakat Desa Pacangan adalah salah satunya gerbang atau pendopo kerajaan. Batu-batu yang sudah menghitam dan terdapat sedikit lumut kering yang menempel menyatakan usia batu yang tua. Batu-batu yang menumpuk tersebut tingginya kurang lebih satu meter, dan ditumbuhi oleh akar-akar pepohonan yang mengikat batu-batu dengan kuat.
“Iya masih ada (Wawancara dengan Sarinten di Desa Pacangan, 26 Juli 2017)”.
            Batau-batu tersebut letaknya tidak terlalu begitu jauh dengan permukiman masyarakat Desa Pacangan. Namun, masyarakat disini tidak berani mendatangi tempat batu-batu tersebut berada. Karena menurut masyarakat Desa Pacangan tempat ini sangatlah keramat dan banyak penunggu atau prajurit yang tidak dapat terlihat dengan mata telanjang manusia. Seperti yang dikatakan oleh Ustadz Fadol tempat ini tidak ada orang yang berani datang apalagi sendiri, banyak orang takut datang kesini, karena di sini banyak tentara atau prajurit sisa kerajaan yang menjaga. Dan Ustadz Fadol pernah menceritakan pernah ada seseorang yang bersemedi atau bertapa di tempat ini dan akhirnya menghilang. Di mana hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancara di bawah berikut ini:
Saya sebenarnya takut mas mau ke sini. Tempat ini keramat, dan tidak ada yang berani datang ke tempat ini. Karena banyak prajurit atau tentara yang menjaga tempat ini. Dan ketika orang datang ke sini tidak boleh sembarangan karena ada aturan atau arahnya sendiri (Wawancara dengan Ustadz Fadol di Desa Pacangan, 26 Juli 2017)”.
Gambar 1. Batu sisa-sisa gerbang atau pendopo kerajaan, diambil pada 26 Juli 2017.
Seperti pada gambar di bawah ini, terlihat jelas akar-akar pohon dan tumbuhan kecil menutupi secara perlahan batu-batu dari bangunan gerbang kerajaan. Pada gambar di bawah ini juga terlihat jelas jika tempat ini jarang didatangi oleh masyarakat Desa Pacangan, karena tempat yang terkesan tidak terawat dan ilalang yang tumbuh banyak dengan ketinggian kurang lebih satu meter. Ditambah dengan daun-daun kering yang menambah sulitnya batu-batu tersebut ditemukan ketika ingin mendatangi tempat ini.
Tempat batu-batu tersebut berada, berdekatan dengan areal persawahan masyarakat Desa Pacangan dan sebuah pemakaman pribadi yang tidak begitu banyak. Namun, di temapt ini juga tidak ada keterangan untuk siapapun perlu berhati-hati ketika mendatangi tempat ini, maupun keterangan lain seperti keterangan tempat keramat.
 Gambar 2. Sisa-sisa gerbang yang tertutup oleh akar pepohonan, diambil Pada 26 Juli 2017 
Di bawah ini adalah gambar jalan menuju Kota Bangkalan. Jalan ini berada di depan gerbang yang sudah dijelaskan sebelumnya. Jalan ini dulunya digunakan dari dan menuju Kota Bangkalan yang dikenal sekarang. Para keluarga kerajaan dulu pernah melewati jalan ini dengan menunggangi kuda, kalau dalam Keraton Yogyakarta dikenal dengan kereta kencana.
“Ini adalah jalan yang digunakan menuju Kota Bangkalan, dengan menggunakan kuda. Dari sini sampai terus menuju Kota Bangkalan (Wawancara dengan Ustadz Fadol di Desa Pacangan, 26 Juli 2017)”.
Lebar jalan ini sekitar 4 meter lebih yang di samping kanan dan kiri terdapat sebuah garis yang menandakan bahwa ini adalah jalan yang sering digunakan dari dan menuju Kota Bangkalan. Kondisi jalan ini untuk sekarang banyak ditumbuhi oleh rumput-rumput liar dan sedikit kering.
Gambar 3. Jalan yang dilewati ketika ke arah Bangkalan dari gerbang kerajaan, diambil pada 26 Juli 2017.

Read More

Post Top Ad